Ibadah Lepas Kabung

Sebuah Model Pendampingan Pastoral bagi Keluarga yang Berduka

Authors

  • Doddy Octavianus Universitas Kristen Artha Wacana Kupang
  • Eritrika A. Nulik
  • Gery Juventino Muskanan
  • Novy Amabi

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk mengkaji praktik ibadah “lepas kabung” (ibadah lepas kabung; ibadah yang dilakukan selama tiga hari berturut-turut bagi keluarga berduka setelah penguburan, di Jemaat GMIT Lahairoi Kuanheun, Klasis Kupang Barat) sebagai bentuk pendampingan pastoral yang efektif bagi keluarga yang berduka. Ibadah ini dilaksanakan dengan tujuan utama memberikan penghiburan emosional, spiritual, serta memperkuat ikatan komunitas gereja. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif untuk menggambarkan pelaksanaan ibadah ini dalam konteks budaya lokal dan refleksi pastoral. Berdasarkan refleksi teologis atas pengajaran Matius 5:4, "Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur," ibadah ini menunjukkan bagaimana nilai-nilai penghiburan ilahi dan solidaritas persekutuan gereja dapat membantu keluarga berduka menghadapi duka akibat kehilangan.  Penulis menyoroti bahwa ibadah ini tidak hanya bersifat ritual liturgis, tetapi juga menjadi praktik pendampingan pastoral yang kontekstual dan relevan dalam mendukung pemulihan keluarga berduka. Dengan mengintegrasikan teologi pastoral dan prinsip ibadah yang menguatkan dan menghibur, ibadah “lepas kabung” dapat menjadi model pendampingan yang menghubungkan tradisi gerejawi dengan kebutuhan umat. Hasil dari penelitian ini menjelakan bahwa ibadah “lepas kabung” juga memainkan peran penting yang strategis dalam memulihkan kesehatan spiritual dan emosional keluarga yang berduka, memperkuat  relasi persekutuan gereja, dan mengaktualisasikan kehadiran Allah yang nyata dan penuh kasih dalam situasi penderitaan. Tulisan ini dapat dikembangkan sebagai pendekatan dalam pendampingan pastoral yang holistik, kontekstual, dan relevan untuk pelayanan gereja di tengah pergumulan umat.

References

Susila, T. (2022). Pendampingan Pastoral Holistik Dari Pendeta Bagi Keluarga Berduka Di Jemaat GKE Nanga Bulik Kabupaten Lamandau. Danum Pambelum: Jurnal Teologi dan Musik Gereja, 81-92.

Davies, W. D., & Allison, D. C. (1988). The Gospel According to Saint Matthew. Edinburgh: T&T Clark.

Gerkin, Charles V. (1997). An Introduction to Pastoral Care. Abingdon Press.

Kübler-Ross, Elisabeth. (1969). On Death and Dying. New York: Scribner.

McGrath, Alister E. (2001). Christian Theology: An Introduction. Oxford: Blackwell Publishers.

Moltmann, Jürgen. (1993). The Crucified God: The Cross of Christ as the Foundation and Criticism of Christian Theology. Minneapolis: Fortress Press.

Salim, Y. B. (2017). Pendampingan Pastoral dalam Tradisi Gereja di Indonesia. Jurnal Teologi dan Kebudayaan, 23(2), 15–30.

Stott, John R. W. (1981). The Message of the Sermon on the Mount: Christian Counter-Culture. Leicester: InterVarsity Press.

Tillich, Paul. (1952). The Courage to Be. New Haven: Yale University Press.

Wright, H. Norman. (1993). Helping Those Who Hurt: A Handbook for Caring and Crisis. Ventura, CA: Regal Books.

Downloads

Published

2024-12-31

How to Cite

Octavianus, D., Nulik, E. A., Muskanan, G. J., & Amabi, N. (2024). Ibadah Lepas Kabung: Sebuah Model Pendampingan Pastoral bagi Keluarga yang Berduka. CONSCIENTIA: Jurnal Teologi Kristen, 3(2), 30–43. Retrieved from https://ojs.theologi.id/index.php/conscientia/article/view/91

Issue

Section

Articles