CONSCIENTIA: Jurnal Teologi Kristen https://ojs.theologi.id/index.php/conscientia <p><strong>CONSCIENTIA</strong>: Jurnal Teologi Kristen dengan nomor 2964-9803 (online) diterbitkan oleh Fakultas Teologi Universitas Kristen Artha Wacana Kupang. Jurnal ini diteritkan dengan tujuan untuk mempublikasikan hasil penelitian ilmiah dalam bidang ilmu Teologi dan Pendidikan Kristen, terutama yang bercirikan Ekumenis.</p> <p><strong>CONSCIENTIA</strong> menerima artikel dan resensi buku dari berbagai sub-disiplin ilmu Teologi dan Pendidikan Kristiani, terutama yang bercirikan ekumenis. Artikel yang dikirimkan belum pernah atau tidak sedang dalam proses dimuat dalam jurnal lainnya. Artikel yang masuk harus sesuai dengan petunjuk penulisan atau format template yang telah ditetapkan. Editor akan menolak artikel yang tidak memenuhi persyaratan tanpa proses lebih lanjut. Artikel yang telah memenuhi persyaratan akan dinilai kelayakannya oleh <em>reviewer</em> melalui proses <em>blind-review</em>.</p> <p><strong>CONSCIENTIA</strong> merupakan wadah publikasi hasil penelitian teologi dan Pendidikan Kristen dengan lingkup kajian sebagai berikut:</p> <ol> <li><strong>Teologi Biblika Kontekstual (Perjanjian Lama &amp; Perjanjian Baru)</strong></li> <li><strong>Teologi Kontemporer</strong></li> <li><strong>Teologi Konstruktif Kontekstual</strong></li> <li><strong>Eko-Teologi</strong></li> <li><strong>Misiologi Kontekstual</strong></li> <li><strong>Pendidikan Kristiani</strong></li> <li><strong>Teologi Pastoral</strong></li> <li><strong>Liturgy</strong></li> <li><strong>Sejarah Kekristenan</strong></li> <li><strong>Pembangunan Jemaat</strong></li> </ol> <p><strong>CONSCIENTIA </strong>terbit dua kali dalam satu tahun: Juni dan Desember</p> en-US mefibosed2505@gmail.com (Mefibosed Radjah Pono) mefibosed2505@gmail.com (Mefibosed Radjah Pono) Tue, 30 Jun 2026 00:00:00 +0000 OJS 3.3.0.11 http://blogs.law.harvard.edu/tech/rss 60 Menafsir Kisah Elisa Dalam 2 Raja-Raja 2:23-25 Menggunakan Perspektif Psikologi Sosial Tentang Bullying Dan Relevansinya https://ojs.theologi.id/index.php/conscientia/article/view/163 <p>Tulisan ini membahas penafsiran terhadap kisah Elisa dalam 2 Raja-Raja 2:23-25 menggunakan perspektif psikologi sosial tentang bullying. Tujuan utama dari penafsiran ini adalah untuk menemukan makna-makna baru dari teks terpilih sebagai alternatif teologis untuk menyikapi persoalan bullying dalam konteks gereja maupun masyarakat. Sebagai sebuah kisah Alkitab yang relatif singkat dan jarang dibahas, kisah Elisa dalam 2 Raja-Raja 2:23-25 seringkali ditafsirkan dalam kacamata teologis untuk menunjukkan hukuman yang pantas bagi orang-orang yang tidak menghormati Allah dan hamba-Nya. Namun, model penafsiran teologis seperti itu, tidak hanya menyempitkan makna dari kisah Elisa tersebut, tetapi juga mengabaikan posisi Elisa dalam teks sebagai korban bullying karena kebotakan yang dialaminya. Oleh karena itu, penafsiran dengan melibatkan perspektif psikologi sosial tentang bullying akan memusatkan perhatian pada menggali realitas Elisa sebagai korban bullying dan relevansinya dalam upaya advokasi pencegahan dan membangun solidaritas bagi para korban bullying. Hasil dari proses penafsiran menunjukkan bahwa Elisa sebagai korban bullying ternyata mengalami dinamika psikis yang luar biasa menekan sehingga menunjukkan adanya perubahan perilaku yang signifikan di setiap peristiwa yang dilaluinya walaupun ia berusaha untuk pulih dan bertahan.</p> Triardi Samuel Zacharias Copyright (c) 2026 CONSCIENTIA: Jurnal Teologi Kristen https://ojs.theologi.id/index.php/conscientia/article/view/163 Tue, 30 Jun 2026 00:00:00 +0000 Negosiasi Komunikasi Digital dan Tradisi Lokal: https://ojs.theologi.id/index.php/conscientia/article/view/169 <p>Digital Communication Negotiation and Local Tradition: The Shift of Handphone Communication Modes toward the Haef Tradition in the Pakubaun Village Community. Trijuliani Renda <em>Affiliation: Sociology of Religion Program, IAKN Kupang</em> <em>Email: </em><a href="mailto:julianirenda@gmail.com"><em>julianirenda@gmail.com</em></a>. The rapid development of information and communication technology, particularly handphone, has fundamentally transformed the way humans build social relations in rural areas. This study aims to analyze the shift in digital communication modes through the use of handphones toward the haef tradition in Pakubaun Village, East Nusa Tenggara. Utilizing a descriptive qualitative approach with 11 informants, data were collected through observation and in-depth interviews. The theoretical framework employed includes George Herbert Mead’s Symbolic Interactionism and Marshall McLuhan’s Technological Determinism. The results indicate that communication technology is not neutral but acts as an active element that shapes social practices. A process of cultural negotiation occurs where handphones are utilized for information efficiency and speed (practical functions), while the <em>haef</em> tradition is maintained as a space of co-presence. This tradition carries values of respect, moral legitimacy, and intersubjectivity that cannot be replaced by digital technology. The novelty of this research lies in the analysis of communication as a value-laden social institution undergoing selective adaptation, where the people of Pakubaun act as active actors negotiating between modernity and the sustainability of local values.</p> <p>&nbsp;</p> <p>&nbsp;</p> Trijuliani Renda Copyright (c) 2026 CONSCIENTIA: Jurnal Teologi Kristen https://ojs.theologi.id/index.php/conscientia/article/view/169 Tue, 30 Jun 2026 00:00:00 +0000 Signifikansi Peran Roh Kudus Pada Gereja Mula-Mula Dan Gereja Masa Kini Dalam Pelayanan Gereja https://ojs.theologi.id/index.php/conscientia/article/view/172 <p>Abstrak:</p> <p>Penelitian ini bertujuan untuk memahami peran Roh Kudus dalam gereja mula-mula, dan gereja masa kini, dan peran Roh Kudus pada pelayanan dalam gereja. Gereja merupakan tempat perkumpulan orang-orang yang ingin datang untuk beribadah kepada Tuhan, atau perkumpulan persekutuan orang Kristen. Dalam pertumbuhan gereja mula-mula, memiliki perkembangan dalam ibadah, dibawah pimpinan Roh Kudus yang selalu berperan di atas mereka, karena Roh Kudus yang selalu bekerja dalam diri orang-orang pada saat itu, untuk terlibat dalam pembangunan gereja dan dalam pelayanan di gereja. Dalam pertumbuhan dan perkembangan gereja sekarang tidak terlepas dalam peran Roh Kudus yang selalu mendorong atau yang selalu berekendak dalam pekerjaan yang Allah inginkan kepada umat manusia, serta memperoleh pertumbuhan spiritual, dan iman orang percaya kepada Allah. Metode yang digunakan penulis dalam penelitian ini adalah Metode kualitatif dengan mengumpulkan semua sumber data-data, untuk mendukung artikel ini yang terkait dengan judul yang diteliti, untuk mengetahui peran Roh Kudus dalam gereja Mula-mula dan masa kini dalam pelayanan di gereja. Penulis meneliti Peran Roh Kudus pada gereja masa kini dan dalam pelayanan, serta kegiatan yang dilakukan dalam gereja, untuk mendorong orang percaya supaya terlibat dalam pelayanan di gereja atau dalam pekerjaan Allah.</p> <p>&nbsp;</p> rahmat1007 wijaya1007 Copyright (c) 2026 CONSCIENTIA: Jurnal Teologi Kristen https://ojs.theologi.id/index.php/conscientia/article/view/172 Tue, 30 Jun 2026 00:00:00 +0000 Pendidikan Agama Kristen dan Neurosains: https://ojs.theologi.id/index.php/conscientia/article/view/146 <p><strong><em>Abstract</em></strong></p> <p><em><span style="font-weight: 400;">The digital age has brought about major changes in the way the younger generation processes information, interacts, and forms their spiritual identity. Christian Religious Education (CRE) faces new challenges, such as digital distractions, a decline in emotional regulation skills, and a weakening of personal spiritual practices. This article aims to integrate the perspectives of neuroscience and Christian faith education to optimize the brain's mechanisms in the process of faith formation. Through qualitative literature review research methods, this study analyzes neuroscience, neurotheology, and Christian education literature from the past five years to formulate a theoretical model relevant to the digital generation. The results of the study show that the process of faith formation is closely related to brain function, particularly in terms of neuroplasticity, the limbic system, spiritual memory reinforcement, and behavior and emotion regulation. CSE learning that utilizes experience-based approaches, narratives, reflective practices, and spiritual habits has been proven to support the formation of a more profound Christian mindset. In addition, digital technology can be a strategic tool when used ethically and purposefully, such as through Bible apps, interactive spiritual content, and multimodal learning that triggers cognitive and affective activation. This study produced a model for integrating Neuroscience into Christian Education that emphasizes four pillars: theological foundations, understanding brain mechanisms, brain-based learning strategies, and the wise use of technology. This model is expected to serve as a reference for Christian educators in designing relevant, contextual, and effective learning to strengthen the faith of the digital generation.</span></em></p> <p>&nbsp;</p> <p><strong><em>Keywords:</em></strong><em><span style="font-weight: 400;"> Christian Religious Education, Neuroscience, Neurotheology, Digital Generation, Strengthening Faith.</span></em></p> <p>&nbsp;</p> Cristian Seldjatem, Nehemia Whimpie Martahi Sihombing Copyright (c) 2026 CONSCIENTIA: Jurnal Teologi Kristen https://ojs.theologi.id/index.php/conscientia/article/view/146 Tue, 30 Jun 2026 00:00:00 +0000 Teologi Praktis di Ruang Publik https://ojs.theologi.id/index.php/conscientia/article/view/159 <p>Artikel ini mengkaji pengertian dan cakupan Teologi Praktis dengan menempatkan pengalaman manusia sebagai <em>living text</em> yang berinteraksi secara dialektis dengan <em>sacred text</em>. Permasalahan utama yang dibahas adalah ketegangan otoritas antara doktrin dan pengalaman dalam menentukan dasar refleksi teologis serta implikasinya bagi peran gereja di ruang publik. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif melalui studi kepustakaan dan analisis isi terhadap pemikiran para teolog teologi praktis seperti Friedrich Schleiermacher, Pete Ward, dan Elaine Graham untuk menelaah dinamika hubungan kedua teks otoritatif tersebut. Hasil kajian menunjukkan bahwa ketegangan antara <em>sacred text</em> dan <em>living text</em> bukanlah masalah yang harus dihapus, melainkan karakter inheren Teologi Praktis yang justru memungkinkan refleksi kritis, kontekstual, dan transformatif. Otoritas <em>living text</em> memperluas cakupan Teologi Praktis ke ruang publik tanpa meniadakan identitas iman, melainkan menuntut dialog timbal balik yang terus-menerus. Kesimpulannya, Teologi Praktis berperan sebagai jembatan hermeneutis yang bergerak secara dialogis antara doktrin dan pengalaman, sehingga gereja dapat hadir secara representatif dan relevan di tengah dinamika sosial tanpa kehilangan akar teologisnya.</p> <p>&nbsp;</p> Norce Adu Copyright (c) 2026 CONSCIENTIA: Jurnal Teologi Kristen https://ojs.theologi.id/index.php/conscientia/article/view/159 Mon, 17 Aug 2026 00:00:00 +0000